Pertanyaan Alkitab tentang Kitab Imamat
P: Di dalam Kitab Imamat, mengapa kitab ini disebut “Leviticus” dalam bahasa Inggris?
J: Nama dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin yang berarti “berhubungan dengan orang Lewi”. Nama Ibraninya diambil dari kalimat pertama: “Dan Ia [Allah] memanggil.”
P: Di dalam Kitab Imamat, apa tujuan utama adanya kitab ini di dalam Alkitab pada masa kini?
J: Karena Yesus dan gereja mula-mula menerima Imamat sebagai firman Tuhan, kita seharusnya menghargai kitab Taurat ini sebagai Kitab Suci, entah kita memahami tujuannya atau tidak.
Sesungguhnya, ada begitu banyak pelajaran tentang kekudusan yang dapat diperoleh dari mempelajari Imamat, sehingga kitab ini hampir dapat dinamai “pelajaran bergambar tentang kekudusan.”
P: Di dalam Kitab Imamat, apa saja cara yang berbeda untuk memahami kitab ini?
J: Ada sekurang-kurangnya lima tingkat untuk memandang Kitab Imamat.
Suatu misteri: Tuhan sangat pemurah dan penuh pengertian, tetapi sebagian orang mencoba memandang Tuhan hanya sebagai kasih karunia, tanpa memahami mengapa kasih karunia Tuhan dibutuhkan. Tuhan itu kudus, dan tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14). Tanpa memahami segi kunci dari sifat Tuhan ini, dan sifat yang kita miliki, Kitab Imamat akan tetap menjadi “buku yang tertutup”, dengan sedikit petunjuk mengapa kitab ini ada.
Peraturan untuk menyenangkan Tuhan: Pada tingkat dasar, sebagian orang hanya melihat serangkaian peraturan upacara dan peraturan pribadi yang harus diikuti bangsa Israel. Memang demikian, dan Tuhan sungguh-sungguh dengan peraturan-peraturan itu, tetapi kitab ini juga jauh lebih dari itu.
Hikmat kuno untuk kehidupan: Banyak orang telah membaca Kitab Imamat dan melihat hikmat yang besar untuk menjaga kesehatan, terutama di lingkungan yang tidak higienis dan tanpa banyak air untuk membersihkan. Sering kali binatang dan manusia terkena parasit apa pun yang ada di dalam daging mentah yang mereka makan. Secara umum, binatang yang memakan bangkai, serangga, dan binatang lain dilarang. Walaupun para penguasa Mesir kadang-kadang menikahi saudara perempuan mereka, perkawinan di dalam keluarga dekat secara khusus dilarang dalam Kitab Imamat. Peraturan khusus mengenai penyakit kulit bukan hanya bijaksana, tetapi juga sangat penting ketika banyak orang hidup berdekatan di daerah beriklim kering dengan sedikit air untuk mencuci. Namun, untuk peraturan-peraturan lain kita tidak melihat alasan praktis atau duniawi apa pun. Mungkin memang tidak ada. Mungkin satu-satunya alasan adalah untuk mengingatkan bangsa itu bahwa mereka juga harus dikhususkan dan kudus bagi Tuhan. Kitab Imamat adalah kitab yang bijaksana, tetapi kitab ini bukan terutama tentang praktik kesehatan, melainkan tentang menggambarkan kekudusan.
Pelajaran umum tentang kekudusan: Kekudusan, baik kekudusan Tuhan maupun hidup kudus kita, tidak mudah dipahami; mungkin itulah sebabnya Tuhan memakai satu kitab penuh untuk menjelaskannya. Bangsa Israel yang keluar dari Mesir berasal dari suatu budaya yang kurang menghormati berhala-berhalanya dibandingkan kebanyakan bangsa lain. Ketika orang Mesir berdoa kepada patung-patung mereka untuk meminta pertolongan dan pertolongan itu tidak datang, kadang-kadang mereka mencambuki patung tersebut. Tetapi Kitab Imamat menunjukkan bahwa Tuhan yang sejati “terpisah” dari hal-hal yang biasa dalam kehidupan. Mereka tidak bisa begitu saja mempersembahkan korban kepada Tuhan; mereka hanya boleh mempersembahkannya dengan cara yang telah ditetapkan. Mengenai kelahiran anak, makanan, dan upacara keagamaan, hanya ada satu cara, yaitu cara Tuhan. Imamat 22 adalah satu pasal penuh yang menunjukkan bagaimana seseorang dapat melepaskan sesuatu untuk mempersembahkan suatu persembahan atau korban, namun persembahan itu tetap tidak diterima. Pada masa kini, ketika kita ingin melayani Tuhan dengan cara kita sendiri dan menurut syarat-syarat kita, kita harus berhati-hati: walaupun kita berkorban, usaha kita bisa saja tidak berkenan jika kita tidak memiliki pemahaman tentang kekudusan. Kita secara pribadi dipanggil untuk hidup kudus (1 Petrus 1:15-16) dan kita dipanggil untuk menjadi umat yang kudus (1 Petrus 2:9). Ketika kita menjalani hidup kudus yang mencerminkan kekudusan Tuhan, diri kita sendiri dapat menjadi pelajaran tentang kekudusan (2 Korintus 1:12), yaitu surat Kristus yang ditulis oleh Roh Kudus dari Tuhan (2 Korintus 3:3).
Motivasi dan pola khusus dalam pelayanan kita kepada Tuhan: Alkitab memiliki begitu banyak hikmat sehingga orang Kristen yang dewasa perlu memperhatikan keseimbangan: apakah kita terlalu memusatkan perhatian pada satu aspek dalam mengenal, mengasihi, dan melayani Tuhan sampai mengabaikan aspek-aspek lainnya? Kitab Imamat menyoroti beberapa cara yang berbeda untuk melayani Tuhan, dan seorang Kristen yang bertumbuh dapat menghargai semuanya, dikuatkan olehnya, dan belajar memuji Tuhan melalui semuanya itu.
P: Di dalam Kitab Imamat, apa garis besar kitab ini?
J: Kitab Imamat adalah kitab yang terletak di tengah-tengah Pentateukh (lima kitab pertama Perjanjian Lama), dan kitab ini dapat disusun menjadi lima bagian.
I. Lima Jenis Persembahan kepada Tuhan (Imamat 1-7)
A. Korban Bakaran (‘Olah) – Komitmen Penyerahan secara Total (Im 1:1-17)
1. Seekor lembu jantan muda (Im 1:1-9)
2. Domba jantan atau kambing (Im 1:10-13)
3. Merpati atau tekukur (Im 1:14-17)
B. Korban Sajian (Minchah) – Peringatan untuk Memuji Tuhan (Im 2:1-16)
1. Tepung yang belum dimasak, minyak, dan kemenyan (Im 2:1-3)
2. Tepung yang dimasak dengan minyak (Im 2:4-10)
Catatan: tanpa ragi, tetapi dengan garam (Im 2:11-13)
3. Buah sulung berupa gandum yang ditumbuk, minyak, dan kemenyan (Im 2:14-16)
C. Korban Keselamatan/Persekutuan (Zebach Shalamim) – Ucapan Syukur, Nazar, dan Persembahan Sukarela (Im 3:1-16)
1. Lembu jantan atau betina (Im 3:1-5)
2. Domba atau kambing, jantan atau betina (Im 3:6-16)
a. Domba (Im 3:6-11)
b. Kambing (Im 3:12-16)
Catatan: kapan pun juga, jangan pernah makan lemak atau darah (Im 3:17)
D. Korban Penghapus Dosa (Chattat) – Pengakuan dan Pendamaian (Im 4:1-5:13)
1. Dosa imam yang diurapi: seekor lembu jantan muda (Im 4:1-12)
2. Dosa jemaah: seekor lembu jantan muda (Im 4:13-21)
3. Dosa seorang pemimpin: seekor kambing jantan (Im 4:22-26)
4. Dosa perorangan yang tidak disengaja: seekor kambing atau domba betina (Im 4:27-35)
5. Tidak memberi kesaksian, menyentuh hal yang najis, bersumpah tanpa berpikir: domba atau kambing betina (Im 5:1-6)
6. Kelonggaran bagi orang miskin: dua ekor tekukur, merpati, atau tepung (Im 5:7-13)
E. Korban Penebus Salah (‘Asham) – Pengampunan bagi Dosa terhadap Hal-Hal Kudus: seekor domba jantan (Im 5:14-6:7)
1. Dosa yang tidak disengaja terhadap hal-hal kudus dari Tuhan (Im 5:14-16)
2. Dosa yang tidak disengaja terhadap perintah-perintah Tuhan (Im 5:17-19)
3. Menipu sesama dan ganti rugi ditambah seperlima (Im 6:1-7)
II. Tentang Menjadi Imam (Im 8-10)
A. Pentahbisan para imam (Im 8)
1. Persiapan pentahbisan (Im 8:1-13)
2. Persembahan lembu jantan (Im 8:14-17)
3. Persembahan domba jantan yang pertama (Im 8:18-21)
4. Persembahan domba jantan yang kedua (Im 8:22-30)
5. Makan dan menanti (Im 8:31-36)
B. Pelayanan para imam (Im 9)
1. Petunjuk secara pribadi (Im 9:1-4)
2. Pelayanan di hadapan umat (Im 9:5-22)
3. Tuhan berkenan (Im 9:23-24)
C. Kesalahan para imam (Im 10)
1. Dengan sengaja melayani menurut cara sendiri (Im 10:1-3)
2. Tetap melanjutkan setelah orang lain gagal (Im 10:4-15)
3. Sikap terhadap kesalahan yang tidak disengaja (Im 10:16-20)
III. Hukum yang Kudus bagi Perorangan (Im 11-20)
A. Makanan jasmani kita (Im 11)
1. Binatang darat (Im 11:1-8)
2. Binatang air (Im 11:9-12)
3. Makhluk yang terbang (Im 11:13-23)
4. Binatang yang najis (Im 11:24-44)
B. Kelahiran Anak (Im 12)
C. Penyakit kulit dan jamur (Im 13-14)
1. Penyakit kulit (Im 13:1-46)
2. Jamur (Im 13:47-59)
3. Pentahiran dari penyakit kulit (Im 14:1-32)
4. Pentahiran dari jamur (Im 14:34-54)
D. Lelehan tubuh (Im 15)
E. Yom Kippur (Hari Penebusan Dosa) (Im 16)
F. Larangan memakan darah (Im 17)
G. Hubungan seksual yang tidak sah (Im 18)
1. Hubungan seksual yang tidak sah (Im 18:1-20)
2. Jangan mengorbankan anak kepada Molokh (Im 18:21)
3. Jangan melakukan hubungan homoseksual (Im 18:22)
4. Jangan berhubungan seks dengan binatang (Im 18:23)
5. Janganlah seperti bangsa-bangsa di sekelilingmu (Im 18:24-30)
H. Hukum tentang hubungan dengan sesama (Im 19)
I. Molokh, ilmu arwah, dan perbuatan amoral (Im 20)
1. Jangan mengorbankan anak kepada Molokh (Im 20:1-5)
2. Jangan menjadi perantara arwah, tetapi jadilah kudus (Im 20:6-8)
3. Jangan mengutuki orang tua (Im 20:9)
4. Perzinahan, termasuk dengan kerabat karena perkawinan (Im 20:10-12)
5. Jangan melakukan hubungan homoseksual (Im 20:13)
6. Hubungan seksual yang tidak sah (Im 20:14-21)
a. Jangan berhubungan seks dengan binatang (Im 20:15-16)
7. Berkat dan kutuk (Im 20:22-26)
8. Hukuman mati bagi para perantara arwah (Im 20:27)
IV. Hukum yang Kudus bagi Para Imam (Im 21-22)
1. Para imam dan keluarga mereka (Im 21)
2. Hal-hal yang tidak dapat diterima pada para imam dan umat (Im 22)
V. Kekudusan Juga Bersifat Bersama (Im 23-27)
A. Hari-hari raya dan hari-hari kudus bagi Tuhan (Im 23)
1. Sabat (Im 23:3)
2. Paskah dan Roti Tidak Beragi (Im 23:4-8)
3. Hari Raya Buah Sulung (Im 23:9-14)
4. Hari Raya Tujuh Minggu (Im 23:15-22)
5. Hari Raya Serunai (Im 23:23-25)
6. Hari Penebusan (Im 23:26-32)
7. Hari Raya Pondok Daun (Im 23:33-44)
B. Kekudusan kita yang terus-menerus (Im 24:1-9)
C. Hukuman rajam bagi penghujat (Im 24:10-23)
D. Tahun-tahun khusus: Tahun Sabat dan Tahun Yobel (Im 25)
1. Tahun Sabat (Im 25:1-7)
2. Tahun Yobel pada tahun ke-50 (Im 25:8-17)
3. Hasil yang berlimpah pada tahun Sabat (Im 25:18-23)
4. Penebusan pada Tahun Yobel (Im 25:24-54)
E. Akibat-akibat dari hukum Taurat (Im 26)
1. Upah bagi ketaatan (Im 26:1-13)
2. Hukuman bagi ketidaktaatan (Im 26:14-39)
3. Menerima pertobatan mereka (Im 26:40-46)
F. Pengkhususan dan penebusan bagi Tuhan (Im 27)
P: Di dalam Im 1, apa yang dapat kita pelajari pada masa kini dari korban bakaran?
J: Korban bakaran adalah korban yang total: tidak seorang pun boleh memakan atau menggunakan bagian apa pun darinya. Tetapi dapatkah seseorang tawar-menawar dengan Tuhan?
Katakanlah seekor lembu jantan muda beratnya 1.000 pon (sekitar 450 kg). Seseorang mungkin beralasan bahwa karena setiap bagian binatang itu merupakan bau yang harum bagi Tuhan, ia boleh memakan sendiri lembu itu dan memberikan kepada Tuhan 1.000 pon ekor dari lembu-lembu lain. Tetapi bukan itu yang Tuhan kehendaki. Ia menghendaki binatang itu seutuhnya, bukan hanya sisa-sisanya. Pada masa kini sebagian orang senang melayani Tuhan dengan “sisa-sisa” mereka: kelebihan uang mereka, bakat yang tidak dikembangkan, dan waktu sisa ketika mereka tidak punya hal lain yang lebih baik untuk dilakukan. Tetapi bukan itu yang Tuhan kehendaki. Tuhan menghendaki komitmen yang total.
Katakanlah seseorang benar-benar ingin membuat Tuhan terkesan, lalu ia memakan bagian-bagian yang keras dari beberapa ekor lembu, dan memberikan kepada Tuhan 1.000 pon bagian terbaik dari lima ekor lembu. Tetapi bukan itu pula yang Tuhan kehendaki. Ia tidak menuntut engkau bekerja mati-matian untuk membeli lima ekor lembu, tetapi Ia menuntut satu ekor lembu seutuhnya. Malahan, sebagian dari pelayanan kita yang mungkin kita anggap kurang berharga, tetapi paling enggan kita serahkan, bisa jadi adalah bagian yang paling berharga di mata Tuhan. Tuhan hanya menuntut satu ekor binatang, tetapi Ia menuntut seluruh binatang itu. Pada masa kini mungkin ada orang lain yang lebih banyak karunia, bakat, dan uangnya, dan Tuhan tidak menuntut kita menyerahkan kepada-Nya apa yang dimiliki orang lain tetapi tidak kita miliki. Tetapi Tuhan kita sungguh menuntut kita untuk menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya.
Sebagai orang Kristen, kita tidak lagi mempersembahkan korban lembu, domba, kambing, atau burung pada masa kini. Sebagai ganti korban yang mati, Roma 12:1 mengatakan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup kepada Tuhan. Tidak ada tawar-menawar dengan Tuhan. Tetapi mengapa kita mau melakukannya? Tuhan dalam kasih karunia-Nya telah memberi kita begitu banyak, baik dalam hidup ini maupun dalam kekekalan, sehingga memberikan segala yang kita miliki kepada-Nya sebenarnya sangat kecil dibandingkan dengan apa yang telah Ia janjikan kepada kita.
P: Di dalam Im 1:3,5,10; 5:15; 22:19, mengapa binatang jantan, dan bukan betina, yang dituntut untuk korban bakaran?
J: Kitab Suci hanya mengatakan bahwa itulah yang Tuhan kehendaki. Binatang jantan atau betina boleh dipersembahkan dalam Imamat 3:1, dan hanya domba betina yang layak dalam Imamat 4:32. Sebagai catatan tambahan, kata pendamaian, kipper, digunakan hampir 50 kali dalam Kitab Imamat, dan sekitar 50 kali lagi dalam bagian lain Perjanjian Lama menurut The Expositor’s Bible Commentary jil. 2 hal. 538.
P: Di dalam Im 2:11, mengapa persembahan tidak boleh mengandung ragi atau madu?
J: Kitab Suci tidak mengatakannya. Namun, ketika saya masih seorang ahli kimia cilik berusia dua belas tahun, saya belajar betapa buruknya bau gula yang terbakar, dan madu sebagian besar terdiri dari gula. Di dalam Alkitab, ragi sering melambangkan hal-hal yang bertumbuh, seperti tradisi dan ajaran orang Farisi.
P: Di dalam Im 1:14, mengapa tidak ditentukan hanya burung jantan?
J: Kitab Suci tidak mengatakannya. Salah satu kemungkinan alasannya adalah sulitnya membedakan jenis kelamin banyak burung liar.
P: Di dalam Im 1:17 dan Im 5:8, mengapa imam tidak boleh membelah burung itu menjadi dua?
J: Kitab Suci hanya mengatakan bahwa Tuhan menghendakinya demikian. Dalam Kejadian 15:10, Abraham juga tidak membelah burung-burung dalam korbannya.
P: Di dalam Im 2:13, mengapa persembahan harus dibubuhi garam?
J: Kitab Suci hanya mengatakan bahwa itulah yang Tuhan kehendaki. Namun, berikut beberapa kemungkinan alasannya.
1. Garam adalah komoditas yang berharga di dunia kuno.
2. Para imam dan orang Lewi memakan sebagian persembahan, dan mereka juga membutuhkan garam (Imamat 6:16-18,26; 7:6-9).
P: Di dalam Im 3:2, apakah darah korban dipercikkan ke atas mezbah, atau dicurahkan seperti dalam Ul 12:27?
J: Ada dua pandangan.
Dipercikkan atau dicurahkan: Pandangan pertama, yang oleh buku Haley’s Alleged Discrepancies of the Bible hal. 219-220 dan buku When Critics Ask hal. 89 dikaitkan dengan sarjana Yahudi abad pertengahan Maimonides, mencatat bahwa kata kerjanya adalah “mencurahkan/memercikkan” dan “mencurahkan habis”. Jadi sedikit darah dipercikkan pada mezbah, dan sisanya dicurahkan ke tanah.
Waktu yang kemudian: Tiga hal yang perlu dipertimbangkan:
Imamat 3:2 secara khusus menyebutkan korban yang disembelih di depan kemah pertemuan, yang hanya dipakai sebelum mereka memasuki Tanah Perjanjian.
Ulangan 12:1,18,27 secara tegas menyebutkan korban di tempat yang dipilih setelah mereka memasuki Tanah Perjanjian. Ulangan 12:8 secara khusus menyatakan bahwa beberapa peraturan korban akan berubah ketika mereka memasuki Kanaan.
Mengapa? Kitab Suci tidak mengatakan mengapa Tuhan menghendaki perubahan ini, tetapi kita dapat menduga-duga. Semua orang harus menyembelih binatang untuk makanan mereka di Kemah Pertemuan, yang berada di tanah terbuka. Mencurahkan semua darah di sana dapat menimbulkan masalah logistik. Kemudian, Ulangan 12:21-22 memberi izin untuk menyembelih binatang jauh dari pusat ibadah, setelah mereka memasuki Kanaan. Dengan lebih sedikit binatang yang disembelih di sana, dan mungkin dengan adanya tempat khusus untuk darah di tempat yang permanen itu, darah sekarang dapat dicurahkan.
P: Di dalam Im 4, karena Yesus harus mati untuk menebus dosa kita, bagaimana dengan korban penghapus dosa yang menebus dosa di dalam Perjanjian Lama?
J: Dua hal yang perlu dipertimbangkan dalam jawabannya.
1. Korban-korban itu hanya menutupi dosa, tidak menghapus dosa.
2. Korban-korban itu hanya untuk perbuatan dosa yang tidak disengaja atau gegabah, dan untuk keadaan najis. Tidak ada korban bagi dosa yang disengaja (Bilangan 15:22-30; 35:31).
P: Di dalam Im 4:13, bagaimana Tuhan yang adil dapat menganggap orang bersalah karena dosa yang tidak disengaja?
J: Kitab Suci memberi kita tiga hal tentang dosa yang tidak disengaja.
1. Ketika seseorang melakukan dosa tanpa sengaja, itu tidak berarti ia tidak bersalah. Bisa saja, ketika orang itu menyadari bahwa ia telah berdosa, ia senang telah melakukannya. Untuk menunjukkan bahwa bukan demikian halnya, orang itu mempersembahkan korban (Ulangan 21:1-9).
2. Baik Alkitab maupun hukum modern mengakui bahwa beberapa perbuatan yang tidak disengaja tetap merupakan tindak kejahatan. Pembunuhan tidak disengaja dan kelalaian yang membahayakan nyawa orang lain layak dihukum, sekalipun pelakunya tidak menghendaki kematian korban (Bilangan 35:22-28). Hukuman bagi pembunuhan yang tidak disengaja adalah keharusan untuk tinggal di kota perlindungan sampai imam besar yang sedang menjabat meninggal.
3. Terlepas dari disengaja atau tidaknya perbuatan itu, jika orang yang berdosa tidak mempunyai kesempatan untuk mengetahui bahwa perbuatan itu jahat, Roma 4:15 dan 5:13 mengatakan bahwa dosa yang tidak disengaja tetaplah dosa, tetapi dosa tidak diperhitungkan jika tidak ada hukum Taurat.
P: Di dalam Im 4:14, apakah jemaah harus mempersembahkan hanya seekor lembu jantan muda sebagai korban penghapus dosa, atau seekor lembu jantan muda dan juga seekor kambing jantan seperti dalam Bil 15:24?
J: Konteks kedua ayat itu adalah seluruh jemaah, tetapi
a) Imamat 4:14 berlaku pada masa Keluaran.
b) Bilangan 15:24 berlaku sejak saat itu sampai ke generasi-generasi berikutnya.
Ada suatu pelajaran yang dapat kita lihat di sini tentang kemurahan Tuhan dalam memperlakukan manusia. Korban yang lebih kecil dalam Kitab Imamat diberikan ketika hukum Taurat masih relatif baru bagi mereka, dan korban yang lebih besar dalam Kitab Bilangan diberikan setelah mereka seharusnya sudah belajar. Rupanya Tuhan tidak hanya membedakan apakah seseorang berbuat salah dengan sengaja atau tidak, tetapi untuk dosa-dosa yang tidak disengaja, Tuhan juga memperhitungkan berapa lama seseorang telah mempunyai waktu untuk mempelajari apa yang benar.
When Critics Ask hal. 105 dan Haley’s Alleged Discrepancies of the Bible hal. 242 memberikan jawaban yang sedikit berbeda. Imamat 4:14 secara khusus berbicara tentang “melakukan” kesalahan, atau dosa “perbuatan”. Bilangan 15:24 secara khusus berbicara tentang kelalaian menjalankan perintah, atau dosa “kelalaian”.
P: Apa maksud Im 5:1?
J: Ketika ada panggilan umum untuk menjadi saksi, dan seseorang berdiam diri tentang apa yang telah dilihatnya, hal itu adalah dosa. Kalimat berikutnya, yang mengatakan bahwa ia akan menanggung kesalahannya, bisa berakibat berat. Jika seorang yang tidak bersalah dihukum mati secara keliru karena seorang saksi tidak mau berbicara, maka saksi itu dapat dianggap bersalah atas pembunuhan.
P: Di dalam Im 5:13, Im 9:7, Im 16:16,24,32-33, dan Im 17:11; 23:28, apakah imam yang mengadakan pendamaian bagi umat, ataukah Kristus yang melakukannya, seperti dalam Ibr 10:1-4?
J: Korban-korban dalam Perjanjian Lama mengadakan pendamaian bagi dosa dalam arti menutupi dosa, tetapi tidak menghapusnya. Ibrani 9:9-10 mengatakan bahwa hal-hal lahiriah ini tidak menyucikan hati nurani orang yang beribadah secara batiniah. Korban-korban itu hanya berlaku sampai Kristus datang.
Bagi mereka yang tidak setuju, ingatlah bahwa dalam Yohanes 1:29-31, Yohanes Pembaptis berkata di hadapan Yesus, “Lihatlah, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” Yesus tidak mengoreksi Yohanes. Petrus mengatakan hal yang serupa dalam 1 Petrus 1:19. Salah satu dari empat kemungkinan berikut pasti benar:
1. Yohanes salah ketika mengatakan hal itu.
2. Yohanes benar.
3. Yohanes benar, tetapi maknanya berbeda, atau
4. Injil Yohanes diubah pada bagian yang penting ini.
Jika 1, maka Yesus lalai karena tidak mengoreksinya, dan Tuhan lalai karena tidak mengoreksi Yohanes, rasul Yesus.
Jika 2, maka kita harus mempercayai apa yang dikatakannya.
Jika 3, maka hal itu tampaknya merupakan kebohongan yang disengaja (dusta), karena selama 1.400 tahun bangsa Israel tahu persis apa arti anak domba korban dari Allah.
Jika 4, maka hal itu pasti tidak diketahui oleh orang-orang Kristen mula-mula, karena tidak seorang pun dari mereka yang mengatakannya. Injil ini tidak mungkin diubah setelah tahun 150-200 M, karena kita memiliki banyak naskah yang memuat Yohanes 1; yang paling awal yang masih ada adalah Papirus Bodmer II, yang berasal dari tahun 150-200 M. Kita juga memiliki teks ayat ini yang dikutip oleh Origenes (225-254 M) dan Krisostomus (sekitar 407 M). Jika ayat ini diubah, maka Tuhan pasti telah menghendaki, atau sekurang-kurangnya membiarkan, semua pengikut-Nya tertipu selama itu.
P: Di dalam Im 5:15, apakah korban dibawa kepada Tuhan, atau kepada para imam seperti yang dinyatakan Im 5:18?
J: Karena orang Israel tidak dapat masuk ke surga dengan sendirinya, dan karena para imam mewakili Tuhan, membawa korban langsung kepada para imam adalah cara yang Tuhan tetapkan untuk mempersembahkan korban kepada-Nya. Buku Haley’s Alleged Discrepancies of the Bible hal. 245 hanya mengatakan bahwa imam bertindak sebagai wakil Tuhan. Lihat buku When Critics Ask hal. 89 untuk jawaban yang pada dasarnya sama.
P: Di dalam Im 5:16, ketika seseorang tanpa sengaja berdosa mengenai hal-hal kudus, mengapa harus ditambahkan “seperlima” sebagai hukuman?
J: Kitab Suci tidak benar-benar mengatakannya. Kesalahan orang itu tidak disengaja, tetapi ia seharusnya lebih mengenal hukum Taurat. Seperlima juga ditambahkan sebagai ganti rugi jika seseorang memperoleh harta dengan berbohong atau menipu, dalam Imamat 6:5.
P: Di dalam Im 6:13, mengapa api tidak boleh dibiarkan padam?
J: Kitab Suci tidak mengatakannya. Namun, hal ini dapat melambangkan kebutuhan akan korban yang terus-menerus dan kesempatan untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan setiap saat.
P: Di dalam Im 7:1-2 dan Im 8:17, mengapa binatang dibunuh di luar perkemahan, atau abunya dibawa ke luar perkemahan seperti dalam Im 6:11?
J: Kitab Suci tidak mengatakannya. Namun, bangkai dan abu itu dijauhkan dari tempat orang-orang makan, tidur, dan tinggal. Ibrani 13:11-13 menyebutkan bahwa Yesus disalibkan di luar pintu gerbang kota (dengan menanggung kehinaan), sama seperti tubuh binatang dibakar di luar perkemahan.
P: Di dalam Im 7:15, haruskah seluruh korban keselamatan dimakan pada hari yang sama, atau bolehkah sebagian dimakan pada hari berikutnya, seperti yang dikatakan Im 7:16-17 dan Im 19:6?
J: Tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam jawabannya.
1. Imamat 7:16 membedakan dua jenis korban keselamatan: korban syukur dan korban sukarela.
2. Korban keselamatan sebagai korban syukur harus dimakan seluruhnya pada hari yang sama, seperti yang dikatakan Imamat 7:15.
3. Korban keselamatan yang dipersembahkan secara sukarela boleh juga dimakan pada hari berikutnya, seperti yang dikatakan Imamat 7:16-19 dan Imamat 19:6.
P: Di dalam Im 7:23-25, mengapa mereka tidak boleh memakan lemak daging, dan bagaimana dengan sedikit lemak yang tidak terlihat di dalam daging?
J: Kitab Suci tidak mengatakan mengapa Tuhan memerintahkan hal itu. Namun, sekarang kita tahu bahwa lemak dalam jumlah besar, terutama lemak jenuh dalam daging merah, tidak sehat bagi manusia. Walaupun sedikit lemak tidak dapat dihindari, memakan sedikit sekali lemak sangat berbeda dengan memakan lemak murni.
P: Di dalam Im 7:26-27 dan Im 17:10-14, mengapa bangsa Israel tidak boleh makan darah?
J: Sebenarnya perintah ini pertama kali diberikan dalam Kejadian 9:4, bukan hanya kepada bangsa Israel, tetapi kepada semua orang. Selain itu, dalam Kis 15:20, gereja mula-mula memerintahkan semua orang untuk tidak makan darah.
Jawabannya terdapat dalam Kejadian 9:4 dan Imamat 17:11,14. Nyawa ada di dalam darah, dan melalui darahlah pendamaian diadakan bagi kita. Pada masa Perjanjian Lama, darah menutupi dosa manusia (Ibrani 9:22), sampai darah Kristus dicurahkan bagi kita.
P: Di dalam Im 7:30-31, Im 8:16,20, dan Im 16:25, mengapa mereka membakar lemak?
J: Kitab Suci mengatakan dalam Imamat 8:28 bahwa hal itu merupakan bau yang harum. Sama seperti lemak yang menetes ke panggangan menimbulkan bau yang sedap dan menghasilkan asap, membakar lemak dalam upacara korban mungkin memiliki efek yang serupa.
P: Di dalam Im 7:36 dan Im 16:31,34, karena ketetapan tentang korban berlaku untuk selama-lamanya bagi bangsa Israel, mengapa orang Kristen Yahudi berhenti mempersembahkan korban dalam Kis 15:1-29?
J: Sebenarnya, korban tidak dipersembahkan kepada Tuhan oleh umat, tetapi oleh imam. Pada masa kini pun sama. Kita membutuhkan korban yang dipersembahkan kepada Tuhan oleh imam kita. Kita memilikinya di dalam Imam Besar kita, Yesus Kristus, seperti yang tersirat dalam Yohanes 1:29 dan yang ditunjukkan dalam Ibrani 8-10 dan 1 Yohanes 2:2.
P: Di dalam Im 8:8, Ul 33:8, Ezr 2:63, dan Neh 7:65, apakah Urim dan Tumim itu?
J: Tujuan: Pada masa itu, Urim dan Tumim merupakan sarana bagi imam besar untuk mengetahui kehendak Tuhan atas suatu perkara (Keluaran 28:30; Bilangan 27:21). Kadang-kadang Tuhan berdiam diri melalui Urim dan Tumim (1 Samuel 28:6).
Gambaran: Urim dan Tumim adalah bagian dari tutup dada, yang bertatahkan dua belas batu, satu batu untuk setiap suku dari kedua belas suku Israel.
Cara kerjanya: Benda ini tidak memiliki kuasa dalam dirinya sendiri; benda ini hanya berfungsi karena Tuhan memilih untuk memakainya untuk berkomunikasi. Bagaimana cara kerjanya? Kita tidak tahu. Sejarawan Yahudi Yosefus, yang menulis sekitar tahun 93-94 M, berpendapat bahwa Tuhan membuat batu-batu itu bercahaya sesuai dengan jawabannya.
P: Di dalam Im 9:12-13, bagaimana mereka dapat menyembelih korban bakaran dan meletakkannya di atas mezbah, padahal korban itu sudah dibakar?
J: Korban bakaran adalah lembu, domba, atau kambing yang akan disembelih dan dibakar; binatang itu sudah disebut korban bakaran bahkan sebelum dibakar.
P: Di dalam Im 10:1-2 dan Bil 3:4, mengapa Tuhan membunuh anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, yang mempersembahkan api yang asing kepada Tuhan?
J: Tuhan memandang ibadah kepada diri-Nya dengan sangat serius. Mereka dengan lancang menolak cara beribadah yang telah Tuhan tetapkan dengan tepat, dan dengan sengaja melakukan apa yang tidak diizinkan bagi mereka; karena itu mereka dihukum sebagai contoh bagi orang lain. Ibrani 12:18-23 memberi tahu kita bahwa sekarang keadaannya berbeda. Sementara mereka beribadah di dekat gunung yang menyala-nyala dengan api, sejak kebangkitan Yesus kita sekarang datang dengan penuh keyakinan kepada suatu kumpulan yang penuh sukacita.
P: Di dalam Im 10:6, mengapa Harun tidak boleh berkabung bagi anak-anaknya sendiri?
J: Imamat 21:1-4 mengatakan bahwa para imam boleh menajiskan diri karena anak-anak mereka sendiri. Namun, Imamat 21:10-12 mengatakan bahwa imam besar sama sekali tidak boleh menajiskan diri, bahkan karena kematian ayah dan ibunya sendiri.
P: Di dalam Im 10:16-20, mengapa Musa marah kepada Harun, dan mengapa kemudian Musa merasa puas?
J: Mengingat Tuhan telah membunuh dua anak laki-laki Harun karena korban yang tidak patut, Musa mungkin marah kepada Harun dan juga takut bahwa Harun akan mengalami nasib yang sama. Namun, ketika menjadi jelas bagi Musa bahwa kesalahan Harun tidak disengaja dan bahwa Harun menyesalinya, Musa, yang mengenal hati Tuhan, tidak lagi merasa khawatir.
P: Di dalam Im 11 dan Ul 14, apa ringkasan hukum tentang makanan?
J: Berikut ini ringkasan singkatnya.
Tidak boleh makan lemak – Imamat 7:23-25
Tidak boleh makan darah – Kejadian 9:4; Imamat 7:26-27; 17:10-14; 19:26
Beberapa binatang pemakan tumbuhan yang berkuku belah dan memamah biak boleh dimakan. Unta, hirax, kelinci, dan babi tidak boleh. – Imamat 11:3-8; Ulangan 14:6-8. Sebagai catatan tambahan, babi membawa cacing pita, trikinosis, erisipelas, dan tifus.
Hanya ikan; tidak boleh makan hewan air lainnya, kecuali yang bersirip dan bersisik. Tidak boleh makan kepiting, lobster, udang, belut, hiu, atau lumba-lumba. Imamat 11:9-12; Ulangan 14:9-10. Sebagai catatan tambahan, binatang yang dilarang umumnya adalah pemakan bangkai.
Tidak boleh makan burung rajawali, elang, burung nasar, elang hitam, burung hantu, burung dendang air, angsa, pelikan, bangau, atau kelelawar. Imamat 11:13-19; Ulangan 14:11-18. Sebagai catatan tambahan, banyak dari burung-burung ini adalah pemakan bangkai, dan burung yang bukan pemakan bangkai memakan tikus, mencit, dan binatang pemakan bangkai lainnya.
Sedikit serangga, hanya beberapa jenis belalang dan kumbang. Tidak boleh makan semut berlapis cokelat atau kecoak. Imamat 11:20-23; Ulangan 14:19.
Lain-lain: tidak boleh makan tikus, musang, kura-kura darat, kadal, siput, atau tikus mondok. Imamat 11:26-31.
P: Di dalam Im 11 dan Ul 14, mungkinkah Musa mempelajari prinsip-prinsip kesehatannya dari orang Mesir?
J: Sama sekali tidak. Praktik-praktik kesehatan Mesir terdokumentasi dengan baik dan masih tersimpan sampai sekarang. Meskipun ada banyak rujukan tentang khasiat penyembuhan dari darah cacing, air sihir, kotoran lalat, dan pupuk kandang, tidak ada satu pun tulisan Mesir yang menyebutkan praktik-praktik kesehatan seperti yang ada di dalam Perjanjian Lama.
Namun, orang Mesir memang memiliki pengetahuan yang canggih, dengan 48 jenis pembedahan. Hal ini juga tidak ditemukan di dalam Alkitab.
P: Di dalam Im 11 dan Ul 14, apakah orang Yahudi pada masa itu dan masa kini diizinkan untuk berburu binatang?
J: Sebagian orang Yahudi masa kini berpendapat tidak boleh. Alasan mereka adalah bahwa memburu binatang yang tidak dimakan itu kejam, dan orang Yahudi bahkan tidak boleh memakan binatang kosher hasil buruan, karena darahnya tidak dikeluarkan dengan semestinya.
Namun, bukan itu yang dikatakan firman Tuhan. Tidak ada larangan untuk berburu demi makanan atau sebagai olahraga. Di dalam hukum Musa, Imamat 17:13 mengatakan bahwa orang boleh berburu binatang dan burung, asalkan darahnya dikeluarkan. Memang, mengeluarkan darah binatang di lapangan tidak sesempurna proses kosher orang Yahudi masa kini, tetapi mengeluarkan darah seperti yang dilakukan seorang pemburu itulah yang Tuhan tuntut.
P: Di dalam Im 11 dan Ul 14, mengapa mereka boleh makan burung yang terbang? Burung yang terbang hanya memiliki daging berwarna gelap, yang disebabkan oleh tingginya persentase darah di dalam dagingnya.
J: Tujuan perintah tentang darah adalah “mengeluarkan darah”, yaitu darah yang mengalir keluar dari tubuh. Tujuannya bukan untuk menghilangkan setiap sisa darah yang sangat kecil.
P: Di dalam Im 11:3-8 dan Ul 14, mengapa mereka tidak boleh makan binatang yang memamah biak tetapi tidak berkuku belah?
J: Kitab Suci hanya mengatakan bahwa itulah yang Tuhan perintahkan. Tuhan tidak hanya menyebutkan secara khusus binatang-binatang yang mereka kenal, tetapi Ia juga memberikan aturan umum bagi binatang-binatang yang mungkin belum mereka kenal.
P: Di dalam Im 11:6 dan Ul 14:7, mengapa dikatakan bahwa pelanduk (hirax) dan kelinci memamah biak, padahal para ahli zoologi tahu dengan pasti bahwa binatang-binatang itu tidak memamah biak?
J: Kata Ibrani itu sesuai dengan penggolongan binatang secara kuno, bukan secara modern. Istilah “memamah biak” merujuk kepada binatang yang disebut ruminansia, yang memiliki beberapa lambung untuk mencerna tumbuhan. Satu lambung memulai pencernaan, lalu sebagian makanan dikeluarkan kembali dan dikirim ke lambung yang lain. Seekor binatang tidak dapat memamah biak jika sistem pencernaannya tidak memungkinkan. Empat hal yang perlu dipertimbangkan dalam jawabannya.
Bukan ruminansia: hirax dan kelinci tidak memiliki sistem pencernaan yang memungkinkan apa yang sekarang kita sebut memamah biak.
Tampak seperti ruminansia: karena hirax dan kelinci menggerakkan rahangnya ke samping seperti ruminansia, dan memakan makanan yang sama, mereka tampak seperti memamah biak. Bahkan naturalis Linnaeus pada mulanya mengira bahwa mereka adalah ruminansia.
Tuhan berkomunikasi dengan cara yang dapat dimengerti: Tuhan bermaksud menyampaikan kepada orang Israel aturan-aturan praktis untuk diikuti, dengan kata-kata dan konsep yang dapat mereka pahami, dan orang Israel menggolongkan hirax dan kelinci sebagai binatang yang “mengeluarkan kembali apa yang telah ditelan”.
Menggunakan istilah mereka sendiri: Tuhan menggunakan bahasa, istilah, dan penggambaran mereka sendiri untuk berkomunikasi dengan mereka. Setiap orang Ibrani yang hidup sebelum zaman modern akan mengerti bahwa binatang yang “memamah biak” mencakup kelinci dan hirax. Menerapkan sistem penggolongan modern yang berbeda pada tulisan Musa secara anakronistis berarti memaksakan makna modern pada kata-kata kuno.
P: Di dalam Im 11:9-10,31, mengapa mereka boleh makan ikan yang bersirip dan bersisik, tetapi tidak boleh makan ikan lain, cumi-cumi, dan udang?
J: Kitab Suci tidak mengatakannya, tetapi salah satu alasannya mungkin karena Tuhan tidak ingin mereka sakit akibat memasak ikan pemakan dasar dengan tidak benar. Kenyataan bahwa hukum Musa melarang ikan pemakan dasar sudah dicatat sejak sekitar tahun 100 M di dalam Surat Barnabas pasal 10.
P: Di dalam Im 11:11 dan Kel 35:7, karena bangkai lumba-lumba adalah kekejian, mengapa Tuhan memerintahkan agar Kemah Suci ditutupi dengan kulitnya?
J: Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa lumba-lumba itu sendiri adalah binatang yang keji. Alkitab hanya mengatakan bahwa memakan lumba-lumba adalah kekejian, dan memakai kulitnya untuk keperluan biasa adalah kekejian.
Kata Ibrani ini bukan kata yang umum, jadi ada ketidakpastian di sini. Lumba-lumba biasa hidup di Laut Tengah. Namun, binatang di sini mungkin adalah duyung (atau sapi laut). Duyung banyak terdapat di daerah ini, dan orang Arab sekarang membuat sandal dari kulitnya. Yehezkiel 16:10 menggunakan kata Ibrani yang sama ketika menyebut “kulit” sandal.
P: Di dalam Im 11:13-19, mengapa disebutkan dua puluh jenis burung, padahal Ul 14:11-18 menyebutkan dua puluh satu jenis burung?
J: Kedua daftar memuat burung-burung yang sama, dengan pengecualian berikut:
Imamat 11:13-19 Ulangan 14:11-18
Segala jenis elang hitam Elang hitam
Segala jenis alap-alap
Kedua daftar menyebut segala jenis elang. Walaupun para ahli zoologi modern menggolongkan alap-alap sebagai sejenis elang, secara teknis hal itu tidak relevan, karena kita tidak dapat memaksakan penggolongan modern pada daftar kuno dalam bahasa dan budaya lain. Yang penting adalah bahwa orang Ibrani kuno rupanya juga memandang alap-alap sebagai sejenis elang.
Jawaban kedua, yang diberikan oleh Haley’s Alleged Discrepancies of the Bible hal. 391, adalah bahwa “alap-alap” merupakan kesalahan penyalin yang ditambahkan. Ia mengatakan hal ini karena dalam bahasa Ibrani “burung nasar/alap-alap” (daah) hanya berbeda satu huruf dari “elang hitam” (raah), dan “burung nasar” tidak terdapat dalam Pentateukh Samaria, Septuaginta, dan banyak naskah Ibrani.
P: Di dalam Im 11:20-21, apakah salah jika dikatakan bahwa ada serangga berkaki empat? (Seorang ateis dan seorang Muslim menanyakan hal ini.)
J: Ungkapan Ibrani “berjalan dengan empat kaki” berarti binatang itu tidak berjalan tegak. Jadi seekor anjing yang satu kakinya putus tetap berjalan “dengan empat kaki”. Rupanya orang Ibrani tidak memiliki kata “paralel”. Coba pikirkan: bahkan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Cina, bagaimana Anda menjelaskan secara singkat kepada seseorang bahwa binatang berkaki empat, berkaki enam, dan berkaki banyak semuanya berjalan dengan cara yang sama, tanpa menggunakan kata “paralel”?
P: Di dalam Im 12:1-8, mengapa perempuan [dianggap] berdosa setelah melahirkan? (Seorang Muslim mempersoalkan hal ini.)
J: Kitab Suci tidak mengatakan berdosa, melainkan najis. Ketika seseorang dalam keluarga orang Lewi meninggal, Tuhan memerintahkan mereka untuk menguburkan jenazahnya, dan mereka menjadi najis sampai petang. Menjadi najis berbeda dengan berdosa, sebagaimana terbukti dari perintah Tuhan yang membuat mereka najis dalam keadaan-keadaan tertentu.
P: Di dalam Im 12:1-5, mengapa seorang ibu menjadi najis setelah melahirkan anak?
J: Kitab Suci tidak mengatakannya. Namun, keadaan najis itu akan membebaskannya dari pekerjaan sehari-hari, dan waktu istirahat itu akan baik baginya.
P: Di dalam Im 12:1-5, mengapa seorang ibu yang baru melahirkan najis selama 7 hari jika melahirkan anak laki-laki, dan 14 hari jika melahirkan anak perempuan?
J: Kitab Suci tidak mengatakannya. Namun, najis tidak berarti berdosa. Salah satu alasan yang mungkin adalah bahwa bayi laki-laki disunat pada hari kedelapan, dan dengan memperpendek waktunya bagi bayi laki-laki, sang ibu dapat hadir pada upacara sunat.
P: Di dalam Im 12:5-7, mengapa ibu yang baru melahirkan membawa korban bakaran dan korban penghapus dosa karena melahirkan anak, padahal Mzm 128:3 mengatakan bahwa menjadi ibu adalah berkat?
J: Menjadi ibu memang berkat. Namun, seperti hampir segala hal lain yang kita lakukan, hal ini juga dicemari oleh dosa. Bahkan anak-anak yang lahir pun memiliki natur dosa.
P: Di dalam Im 13, mengapa gejala kusta pada masa itu tidak memiliki ciri-ciri yang sama dengan apa yang sekarang kita kenal sebagai kusta?
J: Kata Ibrani itu mencakup berbagai macam penyakit kulit, bukan hanya apa yang kita sebut kusta, atau penyakit Hansen.
Sebagai catatan tambahan, bayangkan betapa pentingnya kebersihan kulit di dunia kuno, ketika orang tidak dapat sering mandi.
P: Di dalam Im 13, penyakit apa saja pada masa itu yang dapat dianggap sebagai kusta?
J: Wycliffe Bible Dictionary hal. 462 memberikan daftar berikut:
Kusta sejati (penyakit Hansen), sifilis, cacar, kudis, favus, kurap kulit kepala, infeksi jamur sistemik, bisul dan furunkel, pemfigus, dermatitis herpetiformis, dan kanker kulit. Daftar ini berasal dari makalah “Leprosy in Ancient Hebraic Times” oleh Harold M. Spinka, M.D. Makalah ini dimuat dalam Journal of the American Scientific Affiliation, Maret 1959.
P: Di dalam Im 13:51-52, apakah yang dimaksud dengan “kusta yang jahat”?
J: Banyak penyakit kulit pada masa itu telah lenyap pada zaman modern. Rupanya istilah Ibrani itu berarti sejenis jamur atau kusta yang tidak kita kenal sekarang.
P: Di dalam Im 13:47-59 dan Im 14:33-53, bagaimana pakaian dan rumah dapat “sakit” dan terkena kusta?
J: Pakaian dapat menyebarkan penyakit kulit. Sama seperti jamur dapat tumbuh pada pakaian maupun pada manusia, demikian pula beberapa penyakit kulit.
P: Di dalam Im 14:12, mengapa seseorang harus mempersembahkan korban penebus salah dan korban penghapus dosa ketika ia sembuh dari suatu penyakit?
J: Kitab Suci tidak mengatakannya secara jelas, tetapi
1. Korban selalu menyertai upacara pentahiran.
2. Tidak disebutkan bahwa orang itu “bersalah” atau “lebih berdosa” daripada orang lain karena ia menderita penyakit ini.
Ada penerapan rohani yang dapat kita pelajari di sini. Selain kenyataan bahwa Tuhan mengampuni semua dosa orang percaya, kita juga masih membutuhkan pentahiran bagi natur dosa kita.
P: Di dalam Im 14:14,17, mengapa darah dan minyak dibubuhkan pada cuping telinga kanan, ibu jari tangan kanan, dan ibu jari kaki kanan?
J: Kitab Suci tidak menyebutkannya secara khusus, tetapi hal ini mungkin untuk mengidentifikasi orang yang mempersembahkan dengan persembahannya. Contoh lain penggunaan cuping telinga kanan, ibu jari tangan kanan, dan ibu jari kaki kanan terdapat dalam Imamat 8:23-24 dan Keluaran 29:20.
P: Di dalam Im 15:16, karena orang menjadi najis sampai petang setelah berhubungan seks, apakah itu berarti bahwa seks di dalam pernikahan adalah dosa?
J: Tidak. Najis tidak berarti tidak taat kepada Tuhan, melainkan perlunya kehati-hatian yang lebih besar karena risiko kesehatan. Misalnya, ketika seorang kerabat dekat meninggal, seseorang harus menguburkannya, dan (tanpa berbuat durhaka) ia menjadi najis sampai petang. Hukum tentang kebersihan sangat penting dalam budaya padang gurun yang sedikit airnya.
Contoh seorang imam yang menjadi najis karena ia menaati kehendak Tuhan terdapat dalam Bilangan 19:8.
P: Di dalam Im 15:19-30,33, mengapa perempuan [dianggap] berdosa selama masa haid? (Seorang Muslim mempersoalkan hal ini.)
J: Mereka tidak berdosa, hanya najis. Ketika seseorang dalam keluarga orang Lewi meninggal, Tuhan memerintahkan mereka untuk menguburkan jenazahnya, dan mereka menjadi najis sampai petang. Menjadi najis berbeda dengan berdosa, sebagaimana terbukti dari perintah Tuhan yang membuat mereka najis dalam keadaan-keadaan tertentu.
Karena hal ini menjadi keprihatinan Muslim tersebut, mungkin ia mau menanggapi hal berikut dari syariah: bersin dan haid adalah perbuatan setan (Ibn-i-Majah jil. 2 no. 969 hal. 87).
Ia seharusnya bertanya kepada para ulama Muslim mengapa perempuan Muslim dilarang salat selama masa haid. Berikut beberapa sumber syariah yang dapat ia gunakan untuk bertanya kepada mereka.
Seekor anjing hitam atau seorang perempuan, atau seekor anjing dan seorang perempuan yang sedang haid, membatalkan salat. Abu Dawud jil. 1 no. 702,703 hal. 181; Ibn-i-Majah jil. 2 no. 949-953 hal. 78-80
Perempuan yang sedang haid tidak diizinkan membaca Al-Qur’an. Abu Dawud jil. 1 catatan kaki 111 hal. 56
P: Di dalam Im 16:1-2, mengapa Tuhan memberi Harun sedikit kelonggaran, padahal Tuhan tidak menunjukkan belas kasihan kepada kedua anak laki-laki Harun, Nadab dan Abihu?
J: Konteksnya menunjukkan bahwa Harun berbuat salah karena ketidaktahuan, dan Roma 4:15 dan Roma 5:13 menunjukkan bahwa Tuhan tidak memperhitungkan dosa yang kita lakukan karena ketidaktahuan yang tulus sebagai pelanggaran.
P: Di dalam Im 16:10,22,26, mengapa Tuhan memperkenalkan konsep kambing pelepasan?
J: Konsep Alkitab tentang kambing pelepasan berbeda dengan istilah modern “kambing hitam”. Istilah modern itu berarti seseorang yang disalahkan atas sesuatu yang bukan tanggung jawabnya.
Di dalam Alkitab, kambing pelepasan itu dilepaskan untuk hidup di padang gurun, dan secara simbolis semua kesalahan ditimpakan kepadanya. Dalam pengertian Alkitab, Yesus adalah kambing pelepasan kita.
Gagasan bahwa kambing pelepasan itu melambangkan Iblis adalah tradisi Yahudi yang muncul jauh kemudian.
P: Di dalam Im 16, mengapa segala sesuatu harus dilakukan tepat dengan cara ini?
J: Seseorang dapat menulis sebuah buku tentang alasan-alasannya, dan Tuhan telah melakukannya – yaitu Kitab Ibrani. Lihat khususnya Ibrani 7-10 dan 13.
P: Di dalam Im 17:3-4,9, bolehkah orang menyembelih binatang tanpa menjadikannya korban?
J: Pada masa Keluaran, tidak boleh. Alasannya adalah karena Tuhan tidak hanya ingin kita beribadah kepada-Nya; Ia ingin kita beribadah hanya kepada-Nya, dan tidak beribadah atau mempersembahkan korban kepada allah lain, seperti yang ditunjukkan Imamat 17:7.
Namun, Ulangan 12:20-23 dengan jelas menyatakan bahwa hal ini akan berubah ketika mereka memasuki Kanaan.
P: Di dalam Im 17:7, apakah jin di sini (se‘irim) adalah dewa-dewa kambing liar, seperti yang dinyatakan buku Asimov’s Guide to the Bible hal. 159?
J: Menurut Literal Translation karya Green, kata Ibrani di sini berarti “korban bagi kambing-kambing jantan”. Jadi, mereka tergoda untuk mempersembahkan korban kepada dewa-dewa kambing, seperti yang dikatakan Asimov.
P: Di dalam Im 17:13, apakah darah dialirkan dan ditimbun dengan tanah, atau dicurahkan seperti air, seperti yang dikatakan Ul 12:24?
J: Keduanya benar. Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam jawabannya.
1. Mencurahkan darah dan mengalirkan darah pada dasarnya sama.
2. Konteks Kitab Ulangan adalah makan daging secara umum, khususnya di rumah, tempat orang menjaga rumahnya tetap bersih. Karena itu tidak diberikan rincian tentang cara membuang darah agar rumah tetap bersih.
3. Imamat secara khusus menyebutkan berburu di padang. Walaupun seorang pemburu bisa tergoda untuk begitu saja meninggalkan darah di tanah, Imamat 17:13 secara khusus menambahkan bahwa pemburu itu harus “membersihkan bekasnya” dan menimbun darah itu dengan tanah.
P: Di dalam Im 18:1-17 dan 20:12,14, apa ringkasan hukum pernikahan dalam Kitab Imamat?
Bagi laki-laki Bagi perempuan
Putri (kerabat dekat) Putra (kerabat dekat)
Ibu (kerabat dekat) Ayah (kerabat dekat)
Ibu/ibu tiri Putra/anak tiri
Saudari kandung/tiri Saudara kandung/tiri
Cucu perempuan Kakek
Bibi (saudari orang tua) Keponakan laki-laki
Istri saudara ayah Putra saudara laki-laki suami
Menantu perempuan Ayah mertua
Istri saudara laki-laki Saudara laki-laki suami
Ibu mertua Menantu laki-laki
Saudari istri yang hidup Suami saudari yang hidup
Tidak dilarang:
Keponakan perempuan Paman
Putri ipar laki-laki Suami saudari ayah
Sepupu (putri paman) Sepupu (putra paman)
Putri saudara laki-laki Saudara laki-laki ayah
Istri saudara ibu Putra saudari suami
Ketidaksimetrisan: Larangan-larangan ini “tidak simetris” dalam hal berikut. Seorang perempuan boleh menikah dengan putra saudarinya, tetapi tidak dengan putra saudara laki-lakinya. Seorang laki-laki boleh menikahi [mantan] istri saudara laki-laki ibunya, tetapi tidak [mantan] istri saudara laki-laki ayahnya.
P: Di dalam Im 18:5, dapatkah seseorang diselamatkan dengan melakukan hukum Taurat, padahal Perjanjian Baru mengajarkan bahwa hanya Kristus yang dapat menyelamatkan kita?
J: Kebenaran dalam Imamat 18:5 hanyalah satu kepingan dari mozaik hukum, belas kasihan, dan kasih karunia Tuhan. Berikut beberapa kepingan lain yang sesuai dengan Imamat 18:5.
1. Secara teoretis, seseorang tidak akan membutuhkan belas kasihan Tuhan jika ia dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna.
2. Mereka (dan kita) seharusnya berusaha hidup tanpa dosa dan taat kepada Tuhan dengan sempurna.
3. Namun, kita tidak mampu melakukannya. Tidak ada seorang pun yang tidak berdosa (Amsal 20:9; Mazmur 14:2-3; 19:12).
4. Begitu kita menyadari hal ini, kita seharusnya berbalik kepada Tuhan dan menghargai belas kasihan dan kasih karunia-Nya.
5. Tuhan menjanjikan kepada orang-orang yang mengikuti-Nya di dalam Perjanjian Lama bahwa (entah bagaimana) jika mereka menyerahkan diri kepada Tuhan dan hukum-Nya, mereka akan diselamatkan. Banyak ayat lain selain Imamat 18:5 menunjukkan hal ini.
6. Di dalam Yesus Kristus, Tuhan menyatakan satu-satunya cara yang Ia pilih untuk mengampuni dosa mereka dan dosa kita.
7. Walaupun kita hidup setelah kebangkitan Kristus, Imamat 18:5 juga berlaku bagi kita sekarang dalam pengertian kedua. Tuhan memerintahkan semua orang untuk percaya dan taat kepada Yesus (2 Tesalonika 1:8). Jika seseorang percaya dan taat kepada Tuhan, ia akan memperoleh hidup yang kekal. Lihat buku Hard Sayings of the Bible hal. 160-161 dan buku 735 Baffling Bible Questions Answered hal. 67 untuk jawaban yang berbeda.
P: Di dalam Im 18:16 dan Im 20:21, mengapa seorang laki-laki dilarang menikahi istri saudaranya, padahal Ulangan 25:5-10 memerintahkan dia untuk menikahi istri saudaranya?
J: Imamat 18:16-18 mengatakan bahwa engkau tidak boleh menikahi istri saudaramu selama saudaramu masih hidup. Perintah untuk menikahi istri saudaramu dalam Ulangan 25:5-10 bertujuan untuk melanjutkan nama saudaramu setelah ia meninggal.
P: Di dalam Im 18:8-18; 20:11-14,17-21, mengapa inses dibicarakan di dalam Alkitab? (Seorang Muslim mengangkat hal ini.)
J: Topik yang tidak menyenangkan ini perlu dibahas; keluarga kerajaan Mesir dan kemudian bangsa Persia sering melakukan inses.
P: Di dalam Im 18:19 dan Im 20:18, bolehkah suami dan istri berhubungan seks ketika sang istri sedang haid?
J: Ayat ini menunjukkan bahwa di bawah hukum Musa mereka tidak boleh melakukannya.
P: Di dalam Im 18:21 dan Im 20:2, apa maksudnya?
J: Artinya adalah praktik keji mengorbankan anak-anak kecil kepada berhala Molokh. Molokh juga disebutkan dalam Imamat 20:3,4,5b; 1 Raja-raja 11:7; 2 Raja-raja 23:10; Yeremia 32:35.
P: Di dalam Im 18:22,24 dan Im 20:13, apakah homoseksualitas masih salah, atau apakah hal ini sesuatu yang telah berubah, seperti makan daging babi, atau sesuatu yang tidak berubah, seperti larangan mengorbankan bayi?
J: Hal itu tetap salah. Bukan saja Perjanjian Baru tidak menunjukkan adanya perubahan dalam hal ini, tetapi kita juga mendapat penegasan dari Roma 1:26-27 dan 1 Korintus 6:9 bahwa hal ini tetap dosa.
Imamat 18:22 terletak tepat sesudah ayat yang melarang pengorbanan bayi dan sebelum ayat yang melarang bersetubuh dengan binatang, jadi mungkin Tuhan memandang ketiga hal itu serupa. Imamat 20:13 terletak dua ayat sebelum dua ayat yang melarang bersetubuh dengan binatang. Lihat juga pembahasan tentang Roma 1:26-27 dan 1 Korintus 6:9.
P: Di dalam Im 18:22-24 dan Im 20:13, apakah homoseksualitas dan bersetubuh dengan binatang dikutuk hanya karena tidak dapat menghasilkan anak?
J: Tidak, itu bukan alasan yang Tuhan berikan. Alasannya dinyatakan dengan jelas dalam Imamat 18:22-23. Sama seperti bersetubuh dengan binatang adalah perbuatan keji, seks antara dua laki-laki adalah kekejian bagi Tuhan dan pada masa itu dihukum mati.
P: Di dalam Im 19:18, siapakah sesama yang harus dikasihi orang Yahudi?
J: Imamat 19:18 mengatakan bahwa sesama itu mencakup bangsa mereka sendiri. Mungkin juga mencakup orang asing (para musafir dan penduduk sementara) di negeri itu, tetapi tidak mencakup orang Kanaan.
P: Di dalam Im 19:20, mengapa seorang budak perempuan yang berhubungan seks dihukum?
J: Hukum Musa tidak menghukum perempuan mana pun, budak ataupun merdeka, yang diperkosa. Tetapi jika seorang perempuan tidak diperkosa, atau ia berada di dalam kota dan tidak berteriak, perempuan merdeka akan dihukum mati. Seorang budak perempuan, mengingat keadaannya, tidak dihukum mati. Lihat pertanyaan berikutnya mengenai hukumannya.
Hal ini sangat berbeda dengan hukum Romawi di kemudian hari, yang menetapkan bahwa seorang budak perempuan dapat dihukum dengan dipotong hidungnya karena “kejahatan” menutupi tubuhnya dengan sopan di hadapan majikannya. Hukum Musa juga sangat berbeda dengan hukum Islam, yang mengizinkan hubungan seks dengan budak perempuan dan tawanan, dan sama sekali tidak melarangnya. Mereka disebut “perempuan-perempuan yang dimiliki tangan kanan kita”. Untuk dokumentasi tentang hal ini dalam hukum Islam Sunni, bacalah hadis Bukhari jil. 3 kitab 34 bab 113 setelah no. 436 hal. 239-240.
P: Di dalam Im 19:20, karena seorang laki-laki tidur dengan seorang budak perempuan yang telah bertunangan dengan orang lain, mengapa hanya pihak perempuan yang didera, sedangkan pihak laki-laki harus membawa seekor domba jantan?
J: Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam jawabannya.
Denda: Pihak laki-laki juga dihukum secara keuangan dan di depan umum, karena ia harus membawa seekor domba jantan.
Keduanya dihukum secara fisik: Walaupun hanya pihak laki-laki yang membayar denda, keduanya tetap dihukum. Bahasa Ibrani tidak menyatakan bahwa hanya pihak perempuan yang didera. Hanya Alkitab versi King James yang membatasi deraan pada pihak perempuan.
Jenis hukumannya tidak pasti: Kata Ibrani itu dapat berarti “pemeriksaan/hukuman” dan bukan “didera”.
P: Di dalam Im 19:26,31; 20:6,27, mengapa tenung, sihir, dan pemanggilan arwah dilarang?
J: Ayat-ayat ini menyebutkan bahwa
A. Jika Anda berpaling kepada pemanggil arwah, Anda akan dicemarkan olehnya (Imamat 19:31).
B. Jika Anda berpaling kepada mereka, Anda (secara rohani) berzinah dengan mereka (Imamat 20:6).
Alasan-alasan lain mengapa hal itu salah:
1. Orang mencari hikmat dari mereka dan bukan hikmat dari Tuhan.
2. Orang mempercayai kuasa mereka dan bukan kuasa Tuhan.
3. Orang mengabdikan diri kepada sihir dan pemanggil arwah dan bukan kepada Tuhan.
4. Kadang-kadang orang menghormati dan menyembah hal-hal itu dan bukan Tuhan.
Sekalipun Anda tidak melakukan keempat hal itu, melakukan salah satunya saja berarti A dan B berlaku bagi Anda. Orang Kristen tidak boleh pergi kepada peramal macam apa pun, bahkan hanya untuk bersenang-senang di pasar malam.
P: Di dalam Im 19:27, mengapa Tuhan peduli tentang gaya rambut?
J: Kitab Suci tidak mengatakannya. Rambut mudah terlihat, dan tidak memotong rambut di tepi kepala dapat menjadi salah satu cara untuk mengenali laki-laki Yahudi. Perhatikan bahwa dalam budaya ini, bahkan orang yang bukan nazir pun dapat berambut panjang. Lihat juga pembahasan tentang 1 Korintus 11:14.
P: Di dalam Im 19:28, apakah ini berarti seseorang tidak boleh bertato?
J: Ini adalah bagian dari hukum Musa. Namun, Perjanjian Baru mengatakan bahwa kita adalah bait Allah, dan kita tidak mau mencoret-coret dinding bait Allah. Wahyu 13:16-18 mengatakan bahwa kebanyakan orang, kecuali orang percaya, akan memiliki tanda pada tangan kanan atau dahi mereka yang melambangkan 666, bilangan binatang itu. Satu-satunya alasan yang dapat diajukan untuk memiliki tato adalah bahwa di Mesir sekarang ini beberapa orang Koptik menato salib secara mencolok pada bayi mereka yang baru lahir. Hal ini karena jika tidak, kaum fundamentalis Muslim cenderung menculik anak-anak mereka dan membesarkan mereka sebagai Muslim.
P: Di dalam Im 20, mengapa begitu banyak kejahatan yang dihukum mati?
J: Rupanya hal-hal ini cukup serius sehingga di mata Tuhan layak dihukum mati. Daripada mencoba menyesuaikan Tuhan dengan prasangka kita sendiri, marilah kita mempelajari apa yang Tuhan ajarkan, lalu mencari alasan-alasannya. Kejahatan yang patut dihukum mati terbagi dalam tiga kategori:
Mengambil nyawa manusia: pembunuhan yang disengaja, dan pembunuhan yang tidak disengaja jika pelakunya tidak melarikan diri ke kota perlindungan. Suatu perbedaan penting antara hukum Perjanjian Lama dan hukum-hukum lain adalah bahwa dalam hukum Perjanjian Lama tidak menjadi soal apakah korbannya budak atau orang merdeka. Hukuman mati bagi orang yang mengambil nyawa manusia adalah hukuman yang setimpal atas perbuatan mengambil nyawa manusia.
Dosa seksual: Sebagian besar dosa seksual (perzinahan, homoseksualitas, inses, bersetubuh dengan binatang) dihukum mati. Banyak dosa seksual bersifat mencandu, dan para pelakunya berusaha menjerat orang lain ke dalam dosa mereka. Demi kebaikan masyarakat pada masa itu, mereka dihukum mati.
Penentangan secara terbuka: Menyembah allah lain, meramal, dan sebagainya adalah penentangan terhadap Tuhan oleh umat pilihan Tuhan, yaitu bangsa Yahudi. Tentu saja seorang Yahudi dapat meninggalkan bangsanya, berbaur di negeri lain, dan berbuat sesukanya. Tetapi bagi orang Yahudi yang hidup sebagai umat pilihan, Tuhan tidak menoleransi penentangan terhadap diri-Nya. Ia juga tidak menoleransi penentangan terhadap orang tua, seperti mengutuki mereka secara terbuka (Imamat 20:9).
Perjanjian Lama memiliki lebih sedikit kejahatan yang dihukum mati dibandingkan kitab-kitab undang-undang lain. Banyak kitab undang-undang lain menghukum mati para pencuri.
Berbeda dengan hukum Perjanjian Lama, hukum syariah Islam tidak demikian. Jika seorang merdeka dan seorang budak bersama-sama membunuh seorang budak, budak itu dihukum mati dan orang merdeka itu hanya membayar setengah dari uang darah. Berikut kutipannya: “Malik berkata tentang seorang dewasa dan seorang anak yang bersama-sama membunuh seorang laki-laki: ‘Orang dewasa itu dihukum mati dan anak itu membayar setengah dari uang darah penuh.’ Malik berkata, ‘Demikian pula dengan seorang merdeka dan seorang budak yang membunuh seorang budak. Budak itu dihukum mati dan orang merdeka itu membayar setengah dari nilainya.’” Muwatta Malik 43.3.3.
P: Di dalam Im 20:2, apakah “Molokh” sebenarnya berarti “melekh” (raja), dan apakah ini larangan terhadap dewa bangsa itu?
J: Tidak. Nama Molokh mungkin berasal dari kata untuk raja. Namun, ini adalah berhala tertentu yang disembah bangsa Amon. Ada bukti bahwa dewa bernama Muluk dikenal di negara-kota Mari sekitar tahun 1700 SM.
P: Di dalam Im 21:1-4, mengapa seorang imam hanya boleh berkabung bagi orang tuanya, saudara laki-lakinya, dan saudara perempuannya yang tinggal serumah, tetapi tidak bagi orang lain?
J: Rupanya kesucian imam secara upacara untuk menjalankan tugasnya dianggap lebih penting daripada menajiskan diri bagi siapa pun selain keluarga terdekatnya.
P: Di dalam Im 21:11, mengapa imam besar tidak boleh menajiskan diri secara upacara bahkan untuk pemakaman orang tuanya sendiri?
J: Rupanya pentingnya jabatan imam besar mencegah hal ini.
P: Di dalam Im 21:18-23, mengapa Tuhan tampaknya tidak menyukai orang cacat, dan melarang orang yang cacat fisik menjadi imam besar?
J: Jika Tuhan menghendaki, Ia bebas memilih hanya orang pendek, orang tinggi, orang berambut hitam, orang kidal, atau orang macam apa pun yang Ia kehendaki. Jika Tuhan memilih orang-orang yang tidak cacat fisik, dan tidak merasa perlu memberitahukan alasan-Nya kepada kita, itu adalah hak prerogatif Tuhan.
Kita dapat menduga bahwa alasannya mungkin berhubungan dengan peran imam sebagai “teladan” bagi umat dalam mempersembahkan korban. Tentu saja, binatang korban juga harus tidak bercacat, seperti yang ditunjukkan Imamat 22:20-25.
P: Di dalam Im 22:28, mengapa mereka tidak boleh menyembelih induk dan anak binatang pada hari yang sama?
J: Kitab Suci tidak mengatakannya. Mungkin hal ini berhubungan dengan Keluaran 23:19: “Janganlah engkau memasak anak kambing dalam susu induknya.” Lihat pembahasan tentang ayat tersebut untuk keterangan lebih lanjut.
P: Di dalam Im 23:6, apakah benar bahwa “tidak diragukan lagi, penggunaan roti tidak beragi dalam upacara keagamaan sudah sangat kuno, jauh sebelum peristiwa Keluaran”?
J: Kita tidak memiliki catatan bahwa hal ini dilakukan sebelum peristiwa Keluaran. Jika Asimov menganggap penting bahwa kita tidak memiliki catatan tentang Hari Penebusan (Yom Kippur) sebelum masa pembuangan (lihat pembahasan tentang Im 23:26-32), mengapa ia berpikir bahwa penggunaan roti tidak beragi sudah sangat kuno?
Orang lain dapat berargumen (dengan dukungan yang sama minimnya) sebaliknya, yaitu bahwa Hari Penebusan sudah ada sebelum peristiwa Keluaran, dan penggunaan roti tidak beragi baru muncul setelah masa pembuangan. Tentu saja semua bagian Kitab Suci yang menyebutkan roti tidak beragi dapat ditepis sebagai “tambahan yang rupanya ditulis setelah masa pembuangan, karena roti tidak beragi menunjukkan tanggal yang lebih kemudian.”
P: Di dalam Im 23:26-32, Im 16:1-34, dan Bil 29:7-11, apakah benar bahwa tidak ada catatan tentang perayaan Hari Penebusan sampai sesudah masa pembuangan?
J: Asimov juga tidak memberikan catatan apa pun tentang perayaannya pada masa Perjanjian Lama sesudah pembuangan, tetapi hal itu tidak penting. Kita tidak dapat mengharapkan banyak catatan tentang upacara di Bait Suci yang berbunyi, “Kami melaksanakannya sebagaimana mestinya.” Demikian pula, tidak ada catatan sejarah tentang kayu yang dikumpulkan bagi Bait Suci, tetapi kita tahu bahwa orang Gibeon, yang bertugas mengumpulkan kayu, menjalankan tugas mereka baik sebelum maupun sesudah pembuangan. Demikian juga, kita tidak memiliki catatan dari masa sebelum pembuangan tentang upacara Bait Suci mana pun, selain apa yang telah tertulis di dalam Alkitab.
Pada Tahun Yobel, sangkakala ditiup pada Hari Penebusan menurut Imamat 25:8-9. Jadi, perayaan Tahun Yobel mencakup perayaan Hari Penebusan.
Akan tampak aneh jika Musa menuliskan upacara Hari Penebusan dalam Imamat 16:1-34; 23:26-32; dan Bilangan 29:7-11, lalu segera tidak melaksanakannya.
P: Di dalam Im 23:32, apakah Hari Penebusan jatuh pada hari kesembilan, atau pada hari kesepuluh seperti yang [katanya] dikatakan Im 16:29?
J: Hari itu dimulai pada petang hari kesembilan dan berlangsung sampai hari kesepuluh. Tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam jawabannya.
1. Imamat 23:32 dengan tepat mengatakan bahwa waktunya adalah dari petang hari kesembilan sampai petang hari kesepuluh.
2. Orang pada umumnya tidak bekerja setelah hari gelap.
3. Imamat 16:29 hanya mengatakan agar tidak melakukan pekerjaan apa pun pada hari kesepuluh.
P: Di dalam Im 23:42-43, apakah orang Israel yang keluar dari Mesir tinggal di pondok-pondok, atau di kemah-kemah seperti yang dikatakan Kel 16:16; 33:8; dan Bil 11:10?
J: Salah satu jawaban adalah bahwa kata Ibrani untuk pondok, cukkah, adalah kata umum yang dapat berarti pondok atau kemah. Namun, itu mungkin bukan jawaban yang benar, karena ada penjelasan yang lebih masuk akal.
Berikut pokok-pokok jawabannya.
1. Di padang gurun, orang Israel tinggal lebih dari 40 tahun di dalam kemah-kemah yang kokoh, bukan hanya pondok yang didirikan secara tergesa-gesa, seperti yang dibuktikan Keluaran 16:16; 33:8, dan Bilangan 11:10, dan ditunjukkan Yosua 7:22.
2. Sewaktu masih di Mesir, Keluaran 12:7,22-23 membuktikan bahwa mereka tinggal di rumah-rumah (gubuk), karena pada waktu Paskah mereka semua harus membubuhkan darah pada kedua tiang pintu rumah mereka.
3. Orang Israel hanya mempunyai satu hari untuk berkemas dan bersiap, menurut Keluaran 11:4-12:14. Keluaran 12:11 mengingatkan bahwa kepergian mereka dilakukan dengan sangat tergesa-gesa.
4. Oleh karena itu, walaupun mereka kemudian mendirikan kemah di padang gurun, mereka tidak memiliki kemah ketika pertama kali keluar dari Mesir.
5. Perhatikan bahwa Imamat 23:42-43 tidak memperingati masa orang Israel tinggal di pondok-pondok selama lebih dari 40 tahun, melainkan saat mereka tinggal di pondok-pondok ketika dibawa keluar dari Mesir.
6. Seseorang mudah saja melewatkan perbedaan antara tinggal di kemah selama lebih dari 40 tahun dan tinggal di pondok pada awalnya, kecuali ia menulis tentang apa yang dialaminya sendiri.
P: Di dalam Im 24:3, mengapa Tuhan menghendaki pelita berisi minyak zaitun menyala terus-menerus siang dan malam, bahkan ketika tidak ada orang yang melihatnya?
J: Orang-orang tetap akan tahu bahwa pelita itu tidak pernah padam. Mungkin hal ini melambangkan bahwa Tuhan tidak pernah tidur, tidak pernah berhenti mengawasi dunia, dan tidak pernah berhenti memperhatikan kita.
P: Di dalam Im 24:10-22, apakah merajam sampai mati seorang anak yang menghujat merupakan hukuman yang berlebihan?
J: Tidak. Ini bukan sekadar kata-kata kotor, melainkan menghujat nama Tuhan yang kudus dengan mengutuk. Ini lebih dari sekadar menyebut nama Tuhan dengan sembarangan; ini adalah penentangan terhadap hukum Tuhan di bawah pemerintahan teokratis. Tentu saja kita sekarang tidak hidup di bawah pemerintahan seperti itu, dan jika seseorang melakukan hal itu, kita tidak boleh mencoba mencelakakannya.
P: Di dalam Im 25:35 dan Kel 22:25, mengapa mereka tidak boleh memungut bunga dari bangsanya sendiri, padahal mereka boleh memungut bunga dari orang asing menurut Ul 23:20?
J: Ulangan 23:20 menunjukkan bahwa memungut bunga dari orang asing diperbolehkan untuk keperluan dagang. Namun, orang yang saleh tetap tidak akan memungut bunga yang berlebihan, menurut Amsal 28:8 dan Yehezkiel 18:8. Akan tetapi, menolong seorang teman atau sesama orang Israel tidak boleh dilakukan demi alasan dagang. Mereka diperintahkan untuk memberi kepada orang miskin di antara bangsa Israel, dan tidak menghindari tanggung jawab itu dengan mencari keuntungan dari pinjaman kepada orang miskin.
P: Di dalam Im 25:35 dan Kel 22:25, karena mereka boleh memungut bunga dari orang asing tetapi tidak dari bangsanya sendiri, apakah hal ini bertentangan dengan banyak ayat yang mengatakan bahwa hukum-hukum tertentu harus sama bagi orang Israel dan orang asing?
J: Ayat-ayat di bawah ini menunjukkan bahwa banyak hukum agama dan hukum sipil berlaku sama bagi penduduk asli maupun orang bukan Israel. Namun, tidak ada ayat yang mengatakan bahwa hukum-hukum itu harus sama dalam hal meminjamkan uang. Berikut semua ayat yang berkaitan.
Keluaran 12:49 dan Bilangan 9:14 berbicara tentang hukum Paskah bagi orang bukan Israel yang dengan sukarela ingin merayakan Paskah.
Imamat 24:16 dan Bilangan 15:29-30 mengatakan bahwa hukumnya sama untuk dosa-dosa yang berhubungan dengan upacara dan untuk penghujatan.
Imamat 16:29 berkenaan dengan hukum Sabat. Orang Israel akan dirugikan di pasar jika orang asing boleh berjualan pada hari Sabat sedangkan orang Israel yang saleh tidak.
Imamat 19:33 mengatakan bahwa mereka tidak boleh menindas orang asing bukan Israel yang tinggal di negeri mereka.
Imamat 24:22 mengatakan bahwa hukum tentang pembunuhan dan penganiayaan berlaku sama bagi penduduk asli dan orang asing.
P: Mengapa Im 25:46 dan Kel 21:2-21 membenarkan perbudakan?
J: Perbudakan di dalam Alkitab mirip dengan kerja ikatan berdasarkan surat perjanjian. Semua budak Ibrani harus dibebaskan pada setiap tahun ketujuh, menurut Keluaran 21:2-5. Ketika budak itu dibebaskan, mantan tuannya harus membekalinya dengan murah hati dari apa yang dimiliki tuan itu, menurut Ulangan 15:13-15. Satu-satunya pengecualian adalah jika budak itu begitu mengasihi tuannya sehingga ia memilih menjadi budak seumur hidup, menurut Keluaran 21:5-6. Namun, orang Ibrani tidak selalu membebaskan budak-budak mereka, seperti yang ditunjukkan Yeremia 34:8-22; Tuhan menegur mereka karena hal itu. Berikut orang-orang yang menjadi budak:
Para pencuri yang tidak dapat mengganti barang yang mereka curi (Keluaran 22:3).
Para perempuan yang dijual oleh orang tuanya sebagai gundik (Keluaran 21:7-11).
Orang-orang yang menjual dirinya sendiri sebagai budak karena kelaparan.
P: Di dalam Im 26:30, apakah Tuhan membenci Israel, atau apakah mereka biji mata-Nya seperti dalam Za 2:8, dan tidak dibenci-Nya seperti dalam Im 26:44?
J: Tuhan memandang orang Israel yang dipilih-Nya sebagai umat yang berharga di mata-Nya, seperti biji mata-Nya. Tuhan memandang orang Israel yang tidak taat dan menolak hukum Tuhan sebagai sesuatu yang menjijikkan dan tidak berharga (Yeremia 2:5; 12:8). Dengan cara yang sama, Kristus mati sebagai korban pendamaian bagi seluruh dunia (1 Yoh 2:2), tetapi terhadap mereka yang menolak Kristus, Tuhan tidak segan memberitahukan kepada kita betapa besar murka-Nya.
P: Apakah Im 27:1-8 menunjukkan bahwa laki-laki lebih berharga daripada perempuan?
J: Tidak. Kejadian 1:27 menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan diciptakan menurut gambar Tuhan, dan Galatia 3:26-28 menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan, Yahudi dan bukan Yahudi, semuanya sama berharganya sebagai anak-anak Tuhan. Tetapi Imamat 27:1-8 menunjukkan bahwa pada masa itu nilai ekonomis laki-laki lebih tinggi daripada perempuan atau anak-anak.
Imamat 27:1-8 berbicara tentang nazar untuk menyerahkan kepada Tuhan sejumlah uang yang senilai dengan sesuatu. Jadi, sebagai contoh, nilai seorang laki-laki berumur lebih dari 60 tahun LEBIH RENDAH daripada nilai seorang perempuan yang berumur kurang dari enam puluh tahun.
P: Di dalam Im 27:28-29, apakah mengkhususkan orang bagi Tuhan untuk dibinasakan membenarkan pengorbanan manusia?
J: Tidak, karena hukuman mati bukanlah pengorbanan manusia. Hukuman mati bagi para pembunuh dan penjahat lain dilaksanakan karena Tuhan memerintahkannya demi menjaga ketertiban. Konteks Imamat 23-27 berbicara tentang hukum, dan sama sekali tidak berhubungan dengan pengorbanan binatang, apalagi pengorbanan manusia. Alkitab tidak pernah membenarkan apa pun yang menyerupai pengorbanan manusia, dengan dua pengecualian. Tuhan menguji Abraham untuk melihat apakah ia akan mempersembahkan Ishak, walaupun tidak terjadi pengorbanan manusia, dan Yesus dengan sukarela mati bagi kita.
P: Di dalam Im 27:30-33, Bil 18:21-32; Ul 12:5-14; 14:22-29; 26:12-15, dan Mal 3:10, apakah orang Kristen harus memberikan persepuluhan pada masa kini?
J: Tidak. Kita tetap harus memberikan harta benda bagi pekerjaan Tuhan pada masa kini (2 Korintus 8-9). Namun, tidak harus tepat sepersepuluh, karena Roma 7:6 mengatakan, “Tetapi sekarang, karena kita telah mati bagi apa yang mengikat kita, kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sehingga kita melayani dengan cara yang baru menurut Roh, dan bukan dengan cara yang lama menurut hukum yang tertulis.”
Seluruh hidup kita harus dipersembahkan kepada Tuhan, sehingga kita dapat memberi lebih dari sepersepuluh. Tetapi karena Perjanjian Lama menetapkan sepersepuluh, dan standar kita lebih tinggi daripada Perjanjian Lama, persepuluhan dapat dikatakan sebagai batas minimal kemurahan hati. Namun, 2 Korintus 9:7 mengatakan bahwa kita harus memberi dengan sukacita, bukan karena paksaan.
P: Di dalam Imamat, bagaimana kita tahu dari Filo, orang Yahudi itu, bahwa apa yang kita miliki adalah apa yang semula tertulis?
J: Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Perjanjian Lama yang disahkan oleh Kristus adalah Perjanjian Lama yang seharusnya kita miliki. Sebagai tambahan, Al-Qur’an orang Muslim sendiri mengatakan dalam Surat 5:46 bahwa Yesus diberi Taurat. Kita memiliki naskah-naskah kuno dari zaman Kristus, yang dibahas dalam pertanyaan berikutnya. Namun, ada bukti tambahan lain. Filo dari Aleksandria adalah seorang sarjana Yahudi yang hidup dari tahun 15/20 SM sampai 50 M. Ia menulis dalam bahasa Yunani, tetapi menariknya, kutipan-kutipan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani yang ia gunakan lebih sesuai dengan teks Masoret Ibrani daripada Septuaginta Yunani. Ia membahas makna berbagai ayat dengan sangat rinci. Berikut ayat-ayat Imamat yang ia rujuk.
1:3,9,13
2:1,11,13
3:12,16,17
4:22,31
5:2,4,5,20,21
6:9,13,20
7:5,34
8:29-36
9:1-14,24
10:1-3,6,8,9,16
11:3,4,9,10,20-22,42,43
13:3,11,12,14
14:35,36
15:31
16:7,10,17,20
17:11
18:1,6,7
19:13,4,9,11,13,14,16,23-25,32,35,36
20:18
21:11,17
22:4,6,10,12
23:1,2,10,27
24:2,15
25:4,8,9,10,23,31
26:3,8,10,12,36
27:3,32,33
P: Siapa saja penulis mula-mula yang merujuk kepada Kitab Imamat?
J: Penulis sebelum Konsili Nicea yang mengutip atau menyinggung ayat-ayat dalam Kitab Imamat adalah:
Surat Barnabas (100-150 M)
Yustinus Martir (sekitar 138-165 M)
Melito/Meleto dari Sardis (170-177/180 M)
Ireneus dari Lyon (182-188 M) mengutip setengah ayat
Klemens dari Aleksandria (193-217/220 M)
Tertulianus (198-220 M)
Origenes (225-254 M)
Siprianus dari Kartago (sekitar 246-258 M)
Anatolius dari Aleksandria (270-280 M)
Viktorinus dari Petau (martir 304 M)
Metodius dari Olimpus dan Patara (260-312 M)
P: Di dalam Im, apa saja naskah-naskah tertua yang masih ada sampai sekarang?
J: Gulungan Laut Mati: (250 SM dan sesudahnya) beberapa sumber mengatakan ada 13 salinan, yang lain mengatakan sekurang-kurangnya 12. Satu sumber mengatakan ada 8 salinan. Fragmen 4Q17, yang memuat Keluaran 38 sampai Imamat 2, berasal dari tahun 250 SM. Isinya hampir sama dengan teks Masoret. Salinan-salinan itu disebut sebagai berikut:
1Q3 memuat 21 fragmen, yang berasal dari 3 atau 4 naskah asli.
2Q5 (Imamat 11:22-29 dalam bahasa paleo-Ibrani).
4Q23 Imamat 26:2-16 dalam bahasa Yunani (150-1 SM, berdasarkan tulisan tangan formal Hasmonea awal) (15 perbedaan teks dengan Septuaginta).
4Q24 memuat 30 fragmen, tetapi semuanya mungkin berasal dari naskah asli yang sama. Abad pertama SM.
4Q25 hanya 6 atau 9 fragmen yang terpelihara dari pasal 1, 3-5, 8.
4Q26 memiliki empat fragmen (30 SM sampai 20 M, tulisan Herodian awal).
4Q26a sembilan fragmen dari pasal 3, 19-22.
4Q26b satu fragmen dari Imamat 7:19-26
4Q119 (Septuaginta)
4Q120 (Septuaginta)
6Q2 (Im 8)
11Q1
11Q2 memiliki dua fragmen yang mungkin berasal dari naskah asli yang sama (fragmen dari pasal 7-10, 14-15, 25) (sekitar 50 M, berdasarkan “tulisan tangan Herodian akhir”).
Gulungan Laut Mati versi Septuaginta: Salinan Septuaginta tertua yang diketahui adalah teks Imamat dari gua keempat Gulungan Laut Mati; gulungan tersebut berasal dari tahun 100 SM.
Secara keseluruhan, ayat-ayat Imamat berikut terpelihara dalam Gulungan Laut Mati: 1:1-17; 2:1-16; 3:1-14,16-17; 4:1-8,12-14,18-19,23-28,30; 5:6,8-10,12-13,16-24; 7:19-26; 8:12-13,26-28,31,33-34; 9:1-10,12-13,15,22-24; 10:1-2,9-20; 11:1-40; 12:tidak ada; 13:3-9,32-33,39-43,58-59; 14:16-34,40-57; 15:1-5,10-11,19-24; 16:1-15,15-29,34; 17:1-11; 18:16-21,27-30; 19:1-8,30-37; 20:1-6,20-24,27; 21:1-4,6-12,17-24; 22:1-33; 23:1-8,10-29,40; 24:2-23; 25:28-36,45-49,51-52; 26:2-33; 27:5-22,30-31? Lihat buku The Meaning of the Dead Sea Scrolls hal. 423 untuk keterangan lebih rinci.
Masada memiliki dua salinan Imamat yang terpelihara:
Mas1a (Imamat 4:3-9) (50-1 SM)
Mas1b 45 fragmen dari Imamat 8:31-11:40 (25-75 M) (sama dengan teks Masoret).
Terjemahan bahasa Aram dari Kitab Imamat, yang disebut targum, telah ditemukan di antara Gulungan Laut Mati sebagai 4Q156. Dua fragmen kecil berbahasa Aram berasal dari abad kedua SM.
Naskah-naskah Yunani mencakup Vatikanus (325-350 M) (seluruh Imamat) dan Aleksandrinus (sekitar 450 M) (seluruh Imamat).
Sinaitikus (340-350 M) memuat Imamat 20:27-22:30.
Orang Samaria membuat salinan Taurat mereka sendiri pada abad kedua SM, meskipun salinan Samaria tertua yang masih ada berasal dari Abad Pertengahan.
Suatu terjemahan bahasa Suryani dari Septuaginta dibuat oleh Uskup Paulus dari Tella (616-617 M), dan terjemahan itu masih kita miliki sekarang.
Para penulis gereja mula-mula mengakui Kitab Imamat sebagai bagian dari Alkitab.
P: Di dalam Imamat, apa saja perbedaan terjemahan antara teks Ibrani dan Septuaginta Yunani?
J: Berikut beberapa di antaranya, tetapi pertama-tama, berikut beberapa persoalan umum dalam penerjemahan.
Teks Masoret Ibrani Septuaginta Yunani
kemah pertemuan kemah kesaksian
korban bakaran korban bakaran utuh
kecemaran kenajisan pemisahan karena kenajisan
menjijikkan suatu kekejian
perbuatan menjijikkan kekejian-kekejian
dsb.
Kitab Imamat seluruhnya memiliki 859 ayat. Di bawah ini ada beberapa fragmen ayat yang memiliki perbedaan dalam naskah-naskahnya. Daftar ini tidak mencakup seluruh Kitab Imamat, tetapi terutama berfokus pada pasal 16-18. Kecuali dinyatakan lain, frasa pertama adalah teks Masoret (TM) dan frasa kedua adalah Septuaginta (LXX).
Im 1:16 tembolok dan “*”-nya. Tidak jelas apakah “*” berarti “isinya”, “bulunya”, atau kata lain.
Im 3:1-11 tampaknya tidak ada dalam 4Q24.
Im 4:7 “akan menuangkan” vs. “akan menuangkan” yang salah eja dalam naskah Masada Mas1a.
Im 4:19 “ekor yang gemuk, dan yang menutupinya, dan ginjal” vs. “ekor yang gemuk, lemak yang menutupi isi perut, kedua ginjal dan lemak yang ada padanya” (catatan kaki NRSV).
Im 7:21 “sesuatu yang menjijikkan” vs. “binatang yang merayap”
Im 7:29-38 tidak ada dalam Septuaginta.
Im 9:19 “ekor yang gemuk, dan yang menutupinya, dan ginjal” vs. “semuanya itu” (Septuaginta).
Im 11:13-19 “burung nasar” (21 burung) vs. tidak ada (20 burung) dalam Septuaginta dan Pentateukh Samaria.
Im 11:26 “berkuku belah dan tidak memamah biak” vs. “berkuku belah dan memamah biak” (Septuaginta, 2Q5).
Im 14:24 penyalin semula melewatkan ayat ini, dan ayat ini ditambahkan di atas baris dalam 4Q23.
Im 14:45 penyalin semula melewatkan ayat ini, dan ayat ini ditambahkan di atas baris dalam 4Q23.
Im 14:31 “sebanyak yang dapat diusahakan seseorang” vs. “yang mampu diusahakan seseorang, satu ekor” dalam Septuaginta dan terjemahan Suryani (catatan kaki NRSV).
Im 15:31 “memisahkan anak-anak / keturunan Israel dari kenajisan mereka” vs. “membuat keturunan / anak-anak Israel berhati-hati terhadap kenajisan mereka”
Im 16:1 Septuaginta menambahkan sesudah “mati”: “ketika membawa api yang asing”
Im 16:10 2 kali “kambing pelepasan” vs. “penyingkiran total”
Im 16:12 “ukupan” vs. “ukupan yang harum”
Im 16:13 “kesaksian” vs. “loh-loh kesaksian”
Im 16:20 “setelah ia selesai” vs. “ia akan menyelesaikan”
Im 16:25 “ia akan membakar lemak korban penghapus dosa sebagai ukupan” vs. “ia akan mempersembahkan lemak untuk korban penghapus dosa”
Im 16:34 “Dan ia melakukannya seperti yang diperintahkan Yehova kepada Musa” vs. “seperti yang Tuhan[1] perintahkan kepada Musa”
Im 17:2 “Kepada Harun dan anak-anaknya dan kepada …” (TM, Pentateukh Samaria) vs. “Kepada Harun dan kepada …” (11Q2).
Im 17:3 “orang Israel” vs. “orang Israel atau orang asing/pendatang yang tinggal di antara kamu”
Im 17:3 tidak ada (TM) vs. “pendatang yang tinggal di Israel” (4Q26) vs. “pendatang yang tinggal di antara kamu” (Septuaginta).
Im 17:4 “sebagai persembahan bagi Yehova, di depan Kemah Suci Yehova” vs. “untuk mempersembahkannya sebagai pemberian bagi Tuhan (kuriou) di depan Kemah Suci Tuhan”
Im 17:6 “membakar lemak sebagai ukupan menjadi bau yang harum” vs. “mempersembahkan lemak menjadi bau yang harum”
Im 17:7 “mempersembahkan korban mereka kepada kambing-kambing jantan” vs. “mempersembahkan korban kepada [dewa-dewa] yang sia-sia”
Im 17:8 “orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu” vs. “anak-anak para proselit yang tinggal di antara kamu”
Im 18:5 “Akulah Yehova” vs. “Akulah Tuhan (Kuriou), Allahmu”
Im 18:11 “anak perempuan dari istri ayahmu, yang lahir dari ayahmu, ia [adalah] saudaramu perempuan” vs. “anak perempuan dari istri ayahmu; ia adalah saudarimu seayah”
Im 18:14 “ia adalah bibimu” vs. “ia adalah kerabatmu”
Im 18:17 “mereka adalah daging” vs. “mereka adalah dagingmu” (Septuaginta).
Im 18:21 “melewatkan mereka kepada Molokh” vs. “melayani seorang penguasa” [mungkin para penerjemah Septuaginta tidak tahu bagaimana menerjemahkan nama berhala “Molokh” ke dalam bahasa Yunani].
Im 18:21 “mencemarkan nama Allahmu” vs. “mencemarkan nama-Ku yang kudus”
Im 18:23 2 kali “binatang” vs. “binatang berkaki empat”.
Im 18:23 “percampuran yang memalukan” vs. “suatu kekejian”.
Im 18:25 “Aku akan membalaskan kesalahannya kepadanya, dan negeri itu memuntahkan penduduknya” vs. “Aku telah membalas kesalahan mereka karena hal itu, dan negeri itu muak terhadap orang-orang yang mendiaminya.”
Im 18:27 “Para penduduk negeri itu melakukan” (TM, Pentateukh Samaria) vs. “Kamu, para penduduk negeri itu, melakukan [dan Ia merasa jijik terhadap mereka dan berkata kepadamu: kamu] akan mewarisi neg[e]ri mereka.” (11Q2).
Im 18:28 “memuntahkan” vs. “muak”
Im 19:2 “Kamu adalah kudus” vs. “Jadilah kudus”.
Im 19:36 “timbangan yang benar, batu timbangan yang benar” (TM, Septuaginta, Pentateukh Samaria) vs. “batu timbangan yang benar” (4Q26a).
Im 22:9 “bersalah karenanya dan mati karenanya” vs. “bersalah dan mati di tempat kudus” (Vulgata).
Im 22:22 “kutil, eksim, atau ruam basah” (TM, Pentateukh Samaria) vs. “ruam basah, eksim, atau kutil” (11Q2).
[1] Tidak mudah menemukan padanan kata “lord” dalam bahasa Indonesia. Kata Jawa “gusti” lebih tepat daripada kata Indonesia “Tuhan” untuk “Lord”. Namun, saya menggunakan kata “Tuhan” sebagai padanan terdekat untuk “Lord” dalam bahasa Indonesia.